Lompat ke isi utama

Berita

RA. Kartini Inspirasi Perempuan Pengawas Demokrasi

Tanggal 21 April adalah Hari Kartini dimana Perempuan di seluruh pelosok negeri memperingati Hari Kelahiran Pahlawan Nasional yang merupakan sosok perempuan tangguh sebagai pelopor kesetaraan derajat antara wanita dan pria di Indonesia yang mana budaya patriaki masih terpatri erat saat itu, dalam buku yang berjudul “Pengantar Gender dan Feminisme”, patriarki berasal dari kata patriarkat, berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala-galanya.

R.A. Kartini  terlahir dari keluarga ningrat, bangsawan akan tetapi  beliau rela berkorban dan berjuang untuk kaum wanita. Itulah yang membuat pemerintah Indonesia memberi penghargaan kepada Kartini.

Sejak usia 12 tahun RA Kartini sudah melakukan perjuangan dalam bidang pendidikan, larangan menuntut ilmu, larangan meraih cita-cita  dan mendengar wanita-wanita Eropa lebih maju membuat darah nya mendidih, dan bertekad untuk memperjuangkan hak wanita di Indonesia.

Kartini adalah Santriwati, ketika remaja, Kartini mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di Pendopo Kabupaten Demak yang mana Bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini adalah pribadi yang teliti, kritis, dan berhati-hati dalam bertindak, sikap tersebut terihat dari pemikiranya saat ingin mendalami agama Islam dan belajar Al-Qur’an. menurutnya “tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya”,lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur’an diterjemahkan. Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim. Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.

Hadiah yang sangat istimewa bagi Kartini dan mengatakan bahwa :“Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya”. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.” Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh hati dan sanubari. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa “Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur)”.

Kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”yang identik dengan Kartini ternyata bukan murni kata kata Kartini. Kalimat tersebut adalah terjemahan surat-surat Kartini yang dikirim kepada Mr. Abendanon sahabat nya dari Belanda dan diterjemahakan oleh Armijn Pane. Kartini sendiri sering menyebut dalam suratnya dengan kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” . kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran).

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Inspirasi yang dijadikan Prinsip oleh Perempuan Pengawas Demokrasi dari Pribadi Kartini ialah pertama, sikap tulus bekerja dan peduli pada sesama, empaty pada keadaan, tidak peduli Perempuan dari keturunan, piyayi, akademisi, kyai atau bacground lainya, kedua kerja cerdas. Prinsip inilah yang  menjadi kekuatan Pengawas Pemilu. Pertama, kerja tulus. Menjadi panwas haruslah dengan hati yang tulus. Kedua, kerja cerdas menjadi Pengawas harus Cerdas itu dalam pengertian memahami, mengetahui setiap regulasi atau aturan yang ada. Ketiga, kerja serius, yaitu Pengawas Pemilu harus bekerja serius, fokus, dan teliti dalam setiap tindakan yang akan diambil, serius dalam menyelesaikan masalah. Keempat, kerja keras, tangguh. Untuk menggapai cita-cita, harapan dan tujuan harus dilakukan dengan kerja keras, pantang menyerah, dan tidak mudah putus asa. 

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita - cita, tekad, dan perbuatannya. Ide - ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Perjuangan Kartini tersebut mengilhami, menginspirasi, meneladani kami untuk bertekad dengan penuh semangat meneruskan perjuangan Kartini dimasa kini dalam era Demokrasi.  Untuk mewujudkan kesetaraan tersebut, bukan hanya keberhasilan mendorong 30 % kuota gender tapi juga pemberlakuannya, akan ada mekanisme sanksi jika kuota dalam suatu kebijakan tidak terpenuhi kuota gender tetapi juga lebih menekankan pentingnya memberikan pendidikan dan informasi kepada masyarakat mengenai peran perempuan , pentingnya perempuan sebagai pemimpin dan pengambil kebijakan mengingat kelebihan-kelebihan yang dimiliki perempuan.

Keterlibatan para perempuan dalam perhelatan demokrasi cukup penting. Bentuk keterlibatannya bisa sebagai penyelenggara Pemilu, pemantau, maupun pelapor. Perempuan harus mempunyai sikap percaya diri, berani karena benar, agar Permpuan tidak selalu dijadikan hiasan, Regulasi skarang sudah banyak mengakomodir hak-hak Peran Perempuan terutama sebagai Penyelenggara Pemilu, untuk itu peningkatan kapasitas individu harus terus diasah, supaya ada keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Rabu, Tanggal 21 April 2021 Selamat Hari Kartini, tepat 142 tahun Kartini meninggalkan kami,. Perjuanganmu telah membawa kami mengenal Demokrasi. Terimakasih Raden Ajeng Kartini Perempuan Inspirasi Pengawas Demokrasi. (Rosita, Gunungkidul, 21 April 2021)